Training Accurate

Metode Penyusutan Aset Tetap dan Rumusnya

Aset tetap, bagaikan pilar penopang bagi perusahaan, memainkan peran penting dalam menghasilkan pendapatan dan keuntungan. Namun, seiring waktu, nilai aset ini akan menurun karena keausan, kerusakan, dan faktor lainnya. Di sinilah konsep penyusutan aset tetap atau biasa dikenal dengan amortisasi berperan penting dalam akuntansi. Penyusutan aset tetap adalah proses alokasi biaya aset secara sistematis selama masa manfaatnya. Proses ini bertujuan untuk:

  • Mencocokkan biaya aset dengan manfaat ekonomisnya: Penyusutan mengakui penurunan nilai aset dari waktu ke waktu, sehingga biaya yang terkait dengan aset tersebut diakui dalam laporan laba rugi selama periode manfaatnya.
  • Menyajikan laporan keuangan yang akurat: Penyusutan membantu perusahaan dalam menyajikan laporan keuangan yang lebih akurat dan transparan dengan mencerminkan penurunan nilai aset dari waktu ke waktu.
  • Membantu perencanaan pajak: Penyusutan dapat memengaruhi perhitungan pajak penghasilan perusahaan. Dengan mengetahui nilai penyusutan yang tepat, perusahaan dapat menyusun strategi pajak yang efektif dan meminimalisir beban pajak.

Metode Penyusutan Aset Tetap

Terdapat beberapa metode penyusutan yang umum digunakan, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Berikut  ini beberapa metode yang populer digunakan:

1. Metode Garis Lurus (Straight-Line Method)

Metode ini merupakan metode yang paling sederhana dan mudah digunakan. Penyusutan dihitung secara merata selama masa manfaat aset dengan rumus:

Penyusutan per tahun = Nilai awal aset / Masa manfaat aset

Kelebihan:

  • Sederhana dan mudah dipahami.
  • Mudah diimplementasikan dalam sistem akuntansi.
  • Menghasilkan biaya penyusutan yang konsisten setiap tahun.

Kekurangan:

  • Tidak mempertimbangkan nilai sisa aset di akhir masa manfaatnya.
  • Kurang akurat untuk aset yang memiliki nilai sisa yang signifikan.

Contoh:

Misalkan sebuah perusahaan membeli mesin dengan nilai awal Rp 50 juta dan masa manfaat 5 tahun. Maka penyusutan per tahun yaitu Rp 50 juta / 5 tahun = Rp 10 juta per tahun.

2. Metode Saldo Menurun (Declining Balance Method)

Metode ini mengalokasikan biaya penyusutan lebih besar di awal masa manfaat aset dan lebih kecil di akhir masa manfaatnya. Penyusutan dihitung dengan mengalikan nilai buku aset saat ini dengan tingkat penyusutan ganda dari masa manfaat aset.

Kelebihan:

  • Mencerminkan penurunan nilai aset yang lebih cepat di awal masa manfaatnya.
  • Menghemat pajak di awal masa manfaat aset.

Kekurangan:

  • Menghasilkan biaya penyusutan yang lebih tinggi di awal masa manfaatnya, sehingga dapat membuat laba bersih perusahaan tampak lebih rendah di awal.
  • Nilai buku aset dapat menjadi negatif di akhir masa manfaatnya.

Contoh:

Misalkan nilai buku mesin di tahun pertama adalah Rp 50 juta dan masa manfaatnya 5 tahun. Tingkat penyusutan ganda adalah 2 x 1/5 = 2/5. Maka penyusutan tahun pertama yaitu Rp 50 juta x 2/5 = Rp 20 juta.

3. Metode Unit Produksi (Units of Production Method)

Metode ini mengalokasikan biaya penyusutan berdasarkan jumlah unit produk yang dihasilkan aset. Rumus untuk menghitungnya yaitu:

Penyusutan per unit produk = Nilai awal aset / Jumlah unit produk yang diprediksi akan dihasilkan

Kelebihan:

  • Lebih akurat untuk aset yang nilai penyusutannya tergantung pada penggunaan aset.
  • Mencerminkan penurunan nilai aset yang lebih realistis.

Kekurangan:

  • Memerlukan perkiraan jumlah unit produk yang akan dihasilkan aset.
  • Sulit diimplementasikan ke aset yang tidak menghasilkan unit produk yang terukur.

Contoh:

Misalkan sebuah perusahaan membeli mesin dengan nilai awal Rp 50 juta dan diprediksi akan menghasilkan 100.000 unit produk selama masa manfaatnya. Maka, penyusutan per unit produk yaitu Rp 50 juta / 100.000 unit produk = Rp 0.50 per unit produk.

Jika mesin menghasilkan 20.000 unit produk di tahun pertama, maka penyusutan di tahun pertama adalah Rp 0.50 per unit produk x 20.000 unit produk = Rp 10.000

4. Metode Nilai Sisa (Sum-of-the-Years’-Digits Method)

Metode ini mengalokasikan biaya penyusutan berdasarkan nilai sisa aset di akhir masa manfaatnya dan jumlah tahun dalam masa manfaatnya. Rumus menghitungnya yaitu:

Penyusutan tahun ke-n = [(Tahun ke-n) / (Jumlah tahun)] x (Nilai awal aset – Nilai sisa)

Kelebihan:

  • Mempertimbangkan nilai sisa aset di akhir masa manfaatnya.
  • Lebih akurat untuk aset yang memiliki nilai sisa yang signifikan.

Kekurangan:

  • Lebih rumit untuk dihitung dibandingkan metode lainnya.
  • Memerlukan estimasi nilai sisa aset di akhir masa manfaatnya.

Contoh:

Misalkan sebuah perusahaan membeli truk dengan nilai awal Rp 100 juta, masa manfaat 5 tahun, dan nilai sisa diperkirakan Rp 20 juta. Jumlah tahun: 5 + 4 + 3 + 2 + 1 = 15

Maka penyusutan tahun pertama: [(1) / (15)] x (Rp 100 juta – Rp 20 juta) = Rp 6.67 juta

5. Metode Penyusutan Komposit (Composite Depreciation Method)

Metode ini merupakan kombinasi dari metode garis lurus dan metode saldo menurun. Biasanya digunakan untuk aset yang memiliki pola penurunan nilai yang tidak linier.

Kelebihan:

  • Lebih fleksibel dan dapat disesuaikan dengan pola penurunan nilai aset yang sebenarnya.

Kekurangan:

  • Lebih rumit untuk dihitung dan dipahami dibandingkan metode lainnya.
  • Memerlukan perhitungan tambahan untuk menentukan tingkat penyusutan yang tepat.
Bagikan Artikel Ini
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on linkedin
LinkedIn
Artikel Terkait